Berita

Maulid Harus Dipahami Secara Mendalam

Sudah saatnya bagi kita untuk mulai memahami dan memperingati Maulid secara lebih mendalam dan fundamental, sehingga kita tidak hanya memahami dan memperingatinya sebatas sebagai hari kelahiran sosok nabi dan rasul terakhir yang sarat dengan serangkaian acara keislaman semata, namun menjadikannya sebagai kelahiran sosok pemimpin. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholeh. Menghidupkan malam maulid nabi dan malam-malam bulan Rabiul Awal ini adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, memperbanyak syukur dengan nikmat-nikmat yang diturunkan termasuk nikmat dilahirkannya Rasulullah di dunia ini. Hal tersebut disampaikan  bupati sleman Drs. Sri Purnomo saat pembinaan rohani dalaam rangka memperingati Mauilid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Soediro Hudoso Rabu 23 Januaari 2013.
Bupati menyampaikan bahwa  Maulid harus dimaknai sebagai salah satu semangat baru untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokrasi seperti toleransi, transparansi, anti kekerasan, cinta lingkungan dan lain sebagainya. Dalam tatanan sejarah sosio antropologis Islam, Nabi Muhammad SAW dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi.

Secara umum apabila dilihat dari prosentasi KK miskin, angka kemiskinan di Kabupaten Sleman memperlihatkan penurunan. Jika pada tahun 2011 jumlah KK  miskin  50.603 atau 16,57  %, maka pada tahun 2012 menjadi 49.471 KK atau 15,85 % dari 312.089 KK di Sleman. Dengan kenyataan tersebut, maka alangkah baiknya jika momen Maulid Nabi ini kita melakukan sesuatu yang dapat mengangkat derajat warga miskin tersebut dengan memberikan bantuan baik materi maupun dukungan moral agar mereka dapat berdaya dan meningkat kesejahteraannya. Mari kita tunjukkan kepedulian kita dengan sesuatu yang nyata.
Sedangkan K.H. Drs. Saebani, MA yang juga imam masjid Agung Bantul dalam tausiahnya antara lain menyampaikan bahwa iblis tidak akan menggoda orang jelek, tetapi justru akan menggoda orang yang baik, maka berhati-hatilah sebagai orang baik. Namun demikian orang yang merasa jelek harus instrospeksi agar menjadi lebih baik. Dengan instruspeksi padaa dirinya akan tahu akan Tuhannya dan akan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Yang saat ini jarang disadari adalah orang yang baik adalah orang yang tahu akan kekurangannya. Lebih lanjut disampaikan bahwa orang yang berangkat dari keprihatinan biasanya akaan berhasil termasuk para pemimpin. Yang jarang disadari pula bahwa orang ingat akan Tuhannya biasanya apabila sedang bermasalah dan itu sering terjadi padaa masyarakat.  Dalam kesempatan tersebut Ustadz Saebani mengingatkan agar manusia selalu bersyukur dan menerima segalanya dengan ikhlas.
Sementara itu  kepala Bagian Kesra Drs. Kuntadi dalam kesempatan tersebut melaporkan bahwamaksud diadakannya kegiatan tersebut sebagai sarana silaturahmi antar pegawai, TNI, Polri serta siswa-siswi peserta pembinaan rohani, serta memberikan bekal pengetahuan tentang ajaran Islam sehingga kita  lebih khafah dalam mengaplikasikan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, dengan peserta pembinaan sekitar 700 orang. Dalam kesempatan tersebut diserahkan pula bantuan/ditasyarufkan dana BAZDA kabupaten sleman sebesar Rp.41.840.000,- untuk fisabillilah dan nfakir miskin. Sedang untuk mendukung program Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka Program Keluarga Harapan PPA-PKH) Bazda memberikan bantuan kepada 7 orang anak didik, masing-masing berupa 1 buah sepeda sebagai alat transportasi dan uang biaya pendidikan.

Comment here