Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Culture Organizations), organisasi dunia di bawah PBB yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah menetapkan sekaligus mengukuhkan bahwa tradisi batik merupakan warisan dunia asli Indonesia. Sejak saat itu, setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Batik, merupakan identitas bangsa Indonesia yang saat ini semakin popular tidak hanya di kalangan sendiri, namun dikenal luas hingga ke mancanegara.

Untuk melestarikan kekayaan kearifan lokal, Kabupaten Sleman melalui Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) menyelenggarakan Lomba Desain Batik Khas Sleman pada tahun 2013. Dari hasil lomba tersebut didapatkan 8 batik khas Sleman. Seperti halnya batik dari berbagai daerah lainnya di Indoensia yang memiliki karakteristik tersendiri, batik khas Sleman juga memiliki karakteristik yang dapat dilihat dari motif desainnya, yang terinspirasi dari keberagaman flora, fauna dan kondisi geografis di Kabupaten Sleman. Terdapat 8 motif batik khas Sleman yang telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pada Kementerian Hukum dan HAM, yakni sbb :

1. Motif Batik Sinom Parijotho,
2. Motif Batik Salak Pondoh
3. Motif Batik Belut dan Salak
4. Motif Batik Gajah Kombinasi Parang Rusak Baron
5. Motif Batik Salak
6. Motif Batik Salakan
7. Motif Batik Sinom Parijotho Salak
8. Motif Batik Salak Pondoh

Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk menjaga originalitas ke-8 motif batik khas Sleman tersebut, sehingga para pengrajin binaan tidak memproduksi kain motif batik atau printing. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman yang tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 35 Tahun 2015 tentang Tata Kelola Batik.

Disamping berkomitmen menjaga originalitas ke-8 motif batik khas Sleman tersebut, saat ini Pemerintah Kabupaten Sleman juga mengembangkan teknik pewarnaan dengan pewarna alami. Inovasi dalam penggunaan pewarna alami ini adalah wujud upaya Pemkab Sleman dalam menjaga kondisi alam sekitar.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam membuat program pengembangan pewarna alami. Saat ini telah dilakukan pembudidayaan pewarna alami di Kecamatan Minggir. Ke depan diharapkan Kabupaten Sleman dapat menjadi pusat batik pewarna alami.

Sentra batik khas Sleman diantaranya berada di Plalangan, Pandowoharjo,; Mantaran, Trimulyo; Margokaton, Seyegan; Berbah serta Prambanan. Sentra-sentra batik ini merupakan hasil binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman dari awal berdiri hingga saat ini menjadi sentra batik, karenanya Batik Khas Sleman yang ada di sentra-sentra tersebut terjamin kualitasnya