ArtikelPublikasi

Sasmita Agri Waluya Ajak Petani Kembangkan Pertanian Organik

Banyaknya penggunaan zat-zat kimia sintetis untuk lahan pertanian menyebabkan tanah menjadi keras dan tandus. Akibatnya, kemampuan tanah untuk menyerap air hujan kian rendah dan turut memberi kontribusi terhadap banjir yang sering terjadi saat ini. Merosotnya kualitas lingkungan, yang salah satunya disebabkan oleh pertanian non alami menginspirasi Sasmita Agri Waluya untuk mengembangakan pengelolaan pertanian secara alami.

Ubah mindset petani
Munculnya beraneka ragam zat kimia sintetis juga memicu para petani lebih memilih budaya instan. Ketergantungan para petani terhadap produk-produk pupuk ataupun obat-obatan kimia sintetis sangat tinggi. Dampak lain yang ditimbulkan dengan tanpa disadari adalah krisis lingkungan serta semakin lemahnya perekonomian para petani dalam jangka panjang sehingga menimbulkan ironi dan keprihatinan. Terpuruknya pertanian ditanah air memunculkan paradigma bahwa pertanian tidak menjadi mata pencaharian yang memberikan harapan. Tidak mengherankan bila banyak orang (khususnya pemuda) yang meninggalkan dunia pertanian.
Sasmita Agri Waluya bergerak pada skala kampung/padukuhan terkait dengan pemanfaatan lahan. Orientasi kegiatan Sasmita lebih menekankan pada kemandirian petani sehingga petani tidak lagi tergantung pada pihak-pihak lain misalnya untuk kebutuhan bibit maupun pupuk. Mindset para petani diarahkan dan bahkan diubah agar kebutuhan pupuk dan bibit tersebut dapat dipenuhi dan diproduksi sendiri.
Hal ini juga dikarenakan pertanian non alami turut memberi kontribusi terhadap merosotnya derajat kesehatan masyarakat, baik petani maupun masyarakat umumnya sebagai konsumen. Pupuk dan obat-obat kimia sintetis akan meninggalkan residu pada tanaman yang kemudian dikonsumsi oleh masyarakat. Berbagai penelitian dari Environmental Protection Agency (EPA) dan Badan Lingkungan Hidup di beberapa negara seperti Amerika menjelaskan bahwa kandungan zat-zat kimia tersebut akan terakumulasi dan memicu terjadinya keracunan serta berbagai penyakit berbahaya, seperti rusaknya sistem pernafasan, syaraf, hati,perut, dan bersifat karsinogen (memicu kanker).
Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pertanian alami, Sasmita memiliki mandat:
1. Menjadi model pertanian yang dikelola secara alami, dari hulu (produksi) hingga hilir (pasca panen)
2. Menyebar luaskan nilai-nilai yang telah diwariskan leluhur kita melalui pertanian dengan menjaga lingkungan, sosial dan budaya lokal.
3. Memfasilitasi proses pembelajaran para petani demi terwujudnya agen-agen yang berdaya dan meningkatnya kualitas kehidupan.
4. Memfasilitasi produsen dan konsumen demi terwujudnya perdagangan yang adil dan terbuka (fair trade).

Jenis-jenis pelayanan yang diberikan oleh sasmita adalah memfasilitasi tentang pertanian alami dan lingkungan, pelatihan pengembangan layanan pertanian alami. Sasmita memberikan jaminan mutu ALAMI (asli, langgeng, aman, multikultur, inovatif) terhadap seluruh produk yang dihasilkan. Asli, bersumber dari bahan baku lokal yang jelas asal-usulnya. Langgeng, ada keberlanjutan terhadap produk yang dihasilkan. Aman, pengelolaan dilakukan secara alami sehingga baik untuk kesehatan. Multikultur, jenis tanaman yang dibudidayakan beraneka ragam demi meningkatkannya kualitas tanah. Inovatif terwujud dalam berbagaiproduk olahan dari bahan baku yang dihasilkan. Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh Sasmita adalah yang memiliki nilai manfaat tinggi bagi kesehatan dan lingkungan. Berbagai tanaman yang telah diolah juga menghasilkan produk olahan yang berkualitas. Produk-produk yang dihasilkan sasmita antara lain, beras putih (cianjur, rojolele, mentik susu, mentik wangi, jasmin), beras merah, beras hitam, ketan putih/hitam, kedelai, kacang hijau/merah, tepung beras putih/merah/hitam, sayur mayur (selada,sawi putih, sawi daging, terong), tanaman palawija, peyek bayam, sirup markisa, dll.
Pertanian Organik Lebih Tahan Hama dan Panen Lebih Banyak

Untuk mempertahankan konservasi lahan, Sasmita memakai cara-cara sederhana yang digunakan oleh para petani jaman dahulu. Salah satunya yaitu bertani tanpa pupuk anorganik serta menggunakan pranata mangsa. Pranata Mangsa adalah cara-cara mengetahui musim dengan memakai tanda-tanda alam. Pranata Mangsa ini digunakan oleh petani pada jaman dahulu untuk menghindari hama sehingga petani dapat memaksimalkan hasil panennya.
Petani Bebas Memilih Caranya
Untuk meyakinkan para petani saat ini, Sasmita berupaya untuk menyadarkan petani dengan cara mengingatkan dan membandingkan hasil-hasil tani yang sudah dipanen dengan cara organik dan cara anorganik. Kemudian para petani disilahkan untuk memilih mana cara yang menurutnya baik, tanpa memaksakan cara-cara yang dilakukan Sasmita. Terkait dengan masalah waktu tanam komoditas pertanian khususnya padi, pria yang disapa dengan Mas Nono menjelaskan bahwa pada dasarnya masa tanam tergantung pada varietas, ada yang 95 hari sudah bisa dipanen, ada pula yang harus menunggu hingga 4-5 bulan. Melalui cara-cara ini Sasmita mencoba untuk menyadarkan masyarakat bahwa petani tak hanya mengandalkan hasil panen namun juga menyadarkan bahwa petani juga memikirkan kesuburan tanah yang justru sangat menentukan dalam hasil pertanian.
Warga masyarakat Pepen, Trimulyo, Sleman merasakan bukan hanya dampak yang bersifat fisik semata dari pertanian organik ini namun juga dampak sosial. Dampak sosial ini yaitu berupa sifat kegotongroyongan masyarakat yang meningkat sehingga menanam padi juga mampu mengubah perilaku masyarakat.

Sudah Bisa Membibit Sendiri
Awal mula perkenalan dengan pertanian organik, dikarenakan para petani di dusun Pepen sudah jenuh karena hasil panen yang selalu menurun ketika menggunakan pupuk sintetik kimia. Awalnya hanya 9 orang petani yang tertarik, dan hingga saat ini sudah 2 kali panen. Para petani ini tergolong istimewa karena berani mencoba, dan tidak takut dengan tantangan yang dihadapi.
Pihak Sasmita selalu menyampaikan kepada petani Pepen bahwa jika beralih ke metode organik, nantinya hasil pertanian akan sedikit menurun. Tantangan pertanian organik adalah penanganan hama tanpa menggunakan obat-obatan pembasmi hama yang berbahan kimia sintetis. Hal ini dikarenakan unsur tanah yang sudah terlanjur lama menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia sintetis kemudian diubah dengan menggunakan metode pertanian organik maka tanamannya tidak akan bertahan. Namun ternyata di dusun Pepen berbeda, bahkan hasil panennya setelah dilakukan ubinan oleh pihak PPL Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Pemkab Sleman hasilnya diatas rata-rata Kecamatan Sleman.
Sasmita melakukan pendampingan dari hulu hingga hilir membuat jaringan konsumen, bebas memasarkan hasil panen. Sasmita hanya memberikan trik-trik saja bagaimana memasarkan hasil panen. Apabila petani belum bisa memasarkannya, Sasmita memfasilitasi pemasaran dengan membeli maksimal 50% dari hasil panen. Selama ini pemasaran hasil panen telah mencapai Jakarta, Surabaya, Bali, Semarang. Inipun hanya melalui gethok tular. Petani dusun Pepen sudah memulai melakukan pembibitan sendiri sehingga untuk musim tanam kedepan sudah bisa menggunakan bibit sendiri. Hasil panen untuk sementara masih dikonsumsi sendiri agar para petani juga dapat menikamati lezatnya beras organik yang dihasilkan oleh sawah mereka sendiri. Untuk kedepan memang sebagian akan dijual tetapi 50% dari hasil panen. Mereka tidak ingin seperti para petani lain yang menjual habis panenan mereka dan mengkonsumsi raskin bantuan dari pemerintah.

Cara Alami Tangani Hama
Untuk mengantisipasi serangan hama, Sasmita mengajarkan petani untuk menggunakan pranata mangsa, bagaimana mengetahui hama tertentu. Misalnya hama ulat yang terjadi di bulan Maret dapat dihindari dengan memajukan atau memundurkan waktu penanaman dari waktu tanam biasanya. Sedangkan ulat penggerek daun dapat dihindari dengan pengurangan air di sawah.
Untuk menangani masalah hama, para petani di dusun Pepen memakai pestisida alami. Tapi hingga saat ini para petani masih sangat minim menggunakan pestisida alami ini karena hama yang ada telah dikendalikan oleh musuh alaminya di sawah, dan selama ini belum ada serangan hama yang signifikan. Petani juga memberikan jarak pada penanaman sehingga hama tidak dapat terus hidup pada tanaman yang sama.
Dengan tidak menggunakan kimia sintetis dalam membasmi hama, maka predator alami dari hama-hama tersebut dapat tumbuh atau hidup sehingga dapat menjaga keseimbangan ekosistem yang ada. Karena penggunaan obat-obatan kimia sintetis dapat membunuh semuanya dari hama hingga predatornya. Sehingga tanaman yang tidak diberikan obat-obatan kimia sintetis dapat lebih tahan dari hama secara alami karena adanya predator-predator alami tersebut. Selain itu pengaturan jarak tanam dan menggunakan metode nenek moyang kita yaitu pranata mangsa, karena siklus alam itu tidak akan mempan dengan menggunakan obat-obatan apapun. Di dusun pepen pupuk yang digunakan dengan pupuk olahan sendiri, seperti pupuk kadang dan pupuk cair organik, karena memang awalnya adalah sebagai kelompok ternak Setia Maju, jadi kelompok pertanian ini mengindung di dalam kelompok ternak tersebut.
Selain itu, dengan metode pertanian yang alami masyarakat juga dikembalikan dengan metode pertanian dari nenek moyang, seperti upacara tradisi wiwit, gotong royong, slametan-slametan yang dulu dilakukan oleh nenek moyang.
Di awal tahun 2013 kantor Sasmita Agri Waluya pindah ke Plaosan, Tirtoadi yang tadinya berlokasi di Sendangadi. Pendekatan pada kelompok tani di sekitar Plaosan dilakukan melalui kelompok-kelompok tani. Kelompok peternak sapi di Plaosan belajar untuk dapat mengolah limbah cairnya. Bagi peternak diberikan kesadaran untuk peduli tidak hanya pada ternaknya namun juga pada kebersihan kandang. Sementara ibu-ibu rumah tangga diajak untuk mengolah limbah rumah tangga.
Prinsip yang dipegang Sasmita adalah dalam melakukan sesuatu, jangan sampai merugikan pihak lain. Teknologi memang perlu diikuti namun pemanfaatannya diperhatikan apakah sampai mengubah budaya yang telah ada atau tidak.
Sasmita membudidayakan bibit lokal dengan pertimbangan bahwa bibit lokal tersebut sampai kapanpun tidak akan berubah. Lain halnya dengan jenis hibrida, keturunan pertama hingga keduanya mungkin akan sama namun tidak dapat dijamin setelah keturunan kedua tersebut karena kemungkinan besar berubah. *** (antz, ivhal)

Comment here